Cerita dari Yaman

Apa yang membuat saya senang kuliah di luar negeri adalah adanya pengalaman-pengalaman, teman-teman dan kisah-kisah baru yang tidak pernah saya dapatkan sebelumnya. Kali ini ijinkan saya berbagi sepenggal kisah dari perjalanan kuliah saya di Jerman. Sebut saja Ejsan, seorang perempuan cantik dari Republik Yaman, sebuah negara yang kaya akan sumber minyak namun merupakan salah satu negara termiskin di dunia karena konflik yang berkepanjangan. Awal kenal Ejsan, dia menyapa saya di sebuah tempat kursus bahasa di Jerman. “Are you new here?” Saya jawab iya. Setelah itu kami jadi sering ngobrol di sela-sela jam istirahat, karena kami beda kelas. Akhirnya, kami pun sering jalan-jalan bareng keluar kota di akhir pekan. Di dalam kereta menuju Hanover Ejsan menceritakan kisahnya.

Awal perbincangan dimulai dengan sebuah pertanyaan sederhana. “After finishing your study, do you want to go back to your country?” Dia jawab tidak, kecuali situasi di Yaman sudah berubah. Kemudian dia menunjukkan saya foto-foto, yang terlalu mengerikan untuk di-publish, dimana foto-foto itu dia ambil sendiri di lingkungan tempat tinggalnya di Yaman. Ejsan menceritakan bagaimana situasi di Yaman yang sangat mengerikan, hampir setiap hari bom berjatuhan. Ketika saya tanya apakah dia takut, sambil tersenyum dia menjawab: “At first I am affraid, but then I used to it.” Dia bahkan sampai terbiasa mendengar suara dentuman setiap hari. Ejsan menjelaskan, awalnya, konflik di Yaman muncul karena perbedaan prinsip yang memunculkan kelompok radikal, kemudian konflik tersebut semakin memanas dan masuklah intervensi dari negara-negara lain yang mempunyai agenda politik tertentu di Yaman. Deg. Saya jadi memikirkan Indonesia, yang juga sedang dalam situasi perang kepentingan. Karakter mayoritas masyarakat Indonesia ini kurang melek media, terutama media sosial, sehingga sangat mudah dikompori dengan berita-berita dari sumber antah berantah. Semoga saja konflik “berbumbu agama” ini segera berakhir.

Oke, lanjut lagi ke Ejsan. Perjuangannya untuk kuliah dan mendapat beasiswa ke Jerman pun tidak mudah. “I’m lucky,” begitu katanya. Saat ini di Yaman sama sekali tidak ada kantor kedutaan besar, kecuali Rusia, apalagi kantor lembaga penyalur beasiswa, jelas tidak ada. Untuk apply beasiswa ke Jerman, Ejsan harus mengirimkan berkas-berkas yang diperlukan kepada seorang temannya di Mesir, kemudian teman tersebut mengirimkan berkas-berkas tadi ke kantor lembaga penyalur beasiswa yang ada di Mesir. Untuk mengirimkan berkas-berkas itu pun bukannya murah, apalagi mengingat di Yaman sama sekali tidak ada lapangan pekerjaan karena situasi perang. Bahkan keluarga Ejsan saat ini hanya bisa merogoh tabungan tanpa ada pemasukan sama sekali, yang katanya itu pun hanya bisa untuk bertahan hidup selama tiga tahun. Singkat cerita, akhirnya Ejsan berhasil mendapatkan beasiswa ke Jerman. 

Apakah selesai di situ? Tunggu dulu. Untuk meninggalkan Yaman dan terbang ke Jerman tidaklah mudah, bahkan memerlukan waktu berbulan-bulan. Tidak adanya kantor kedutaan besar artinya tidak ada visa. Maka untuk memperoleh visa dan terbang ke Jerman pergilah Ejsan ke Mesir. Menuju Mesir juga perlu perjuangan. Ejsan harus menempuh perjalan darat selama 16 jam (yang seharusnya hanya 5 jam dalam situasi normal) menuju Kota Oman. Kenapa selama itu? Ya karena situasi di Yaman. Dari Kota Oman kemudian dia terbang ke Mesir. Sampai di Mesir, Ejsan langsung mengajukan permohonan visa, yang tidak mudah, karena dia berasal dari Yaman. Dia perlu melengkapi berkas-berkas termasuk berkas kesehatan karena di Yaman sedang mewabah penyakit kolera. Setelah berkas-berkas lengkap, Ejsan masih harus menunggu selama tiga bulan di Mesir sampai mendapatkan visa ke Jerman. Bukan perjuangan yang mudah kan?

Akhirnya, Ejsan pun tiba di Jerman. Dan kisah-kisahnya akan terus berlanjut, yang semoga semakin diwarnai dengan kebahagiaan.

Sekian cerita dari Yaman. Kenapa saya menulis ini? Karena selama ini banyak yang teriak-teriak “Save Rohingya” atau “Pray for Syria” tapi tidak pernah sekalipun ada yang peduli tentang Yaman. Bahkan ada seorang teman dari Syria yang bercerita kalau situasi di Yaman itu lebih buruk berkali-kali lipat daripada apa yang terjadi di Syria. Dan “anehnya” media tidak pernah mem-blow up berita-berita tentang Yaman. Tahu sendiri lah kenapa.

Click to see image source.

Advertisements

See You When I See You, Anto

Une photo, une date, c’est à n’y pas croire

C’était pourtant hier, mentirait ma mémoire

Encore un soir, encore une heure, encore une larme de bonheur

Une faveur, comme une fleur, un souffle, une erreur

Un peu de nous, un rien de tout

Pour tout se dire encore ou bien se taire en regards

 Juste un report à peine encore, je sais, il est tard

Encore Un Soir, Celine Dion –

 

Kabar meninggalnya seorang teman dekat kemarin, membuat saya merenungkan banyak hal. Tentu renungan pertama saya adalah penyesalan tentang bagaimana akhir-akhir ini saya semacam kehilangan kontak dengan dia. Saya tidak tahu tentang penyakitnya, bahkan tidak menanyakan kabar sama sekali selama beberapa bulan terakhir. Kontak terakhir yang dilakukan adalah dia men-japri saya melalui whatsapp saat saya sedang ngurus visa Schengen di Jakarta pada bulan Juni. Waktu itu dia mengajak ketemuan, tapi saya tidak bisa karena keterbatasan waktu & harus mengejar pesawat kembali ke Jogja. Seandainya saya tahu bahwa itu kesempatan terakhir saya untuk ketemu dia….

Penyesalan berikutnya datang bebarengan dengan memori-memori masa lalu yang berdatangan. Saya masih ingat waktu dia masih kuliah di Jogja saya sering tiba-tiba muncul ke kosnya buat numpang ke toilet atau sekedar mengajak dia makan siang. Biasanya dia selalu ada, karena saya kenal dia saat dia sudah bikin skripsi jadi waktu senggangnya banyak. Saya juga masih ingat waktu ngumpul rame-rame dan jalan-jalan bareng. Waktu itu biasanya saya sering becandain dia bahkan mungkin bisa dikatakan sedikit nyinyir. Kalau diingat-ingat semuanya bikin saya menyesal karena semenjak dia bekerja ke Jakarta, kami semacam kehilangan kontak.

 

If I die young, burry me in satin,

lay me down on a bed of roses,

sink me in a river at dawn,

send me away with the words of a love song

If I die Young, The Band Perry –

 

Renungan kedua saya adalah soal ketidaktahuan saya betapa terbatasnya waktu yang kita miliki. Ungkapan sampai jumpa lagi tidak menjamin akan adanya pertemuan berikutnya. Kita tidak tahu kapan kita mati, berapa lama lagi waktu yang tersisa. Saya jadi sadar saya tidak boleh menunda-nunda lagi untuk menghubungi teman/kerabat dengan alasan toh nanti juga ketemu. Saya jadi sadar jangan sampai putus hubungan dengan teman/kerabat karena kita tidak tahu berapa lama lagi kita bisa dengan leluasa menghubungi mereka, bertemu mereka dan sekedar menanyakan kabar. Saya jadi sadar kesibukan bukan berarti menjadi ketidakpedulian karena pada akhirnya bisa jadi tinggal kenangan.

 

And maybe then you’ll hear the words I’ve been singing

Funny, when you’re dead how people start listening

If I Die Young, The Band Perry –


Renungan ketiga saya terjadi saat doa bersama di rumah seorang teman semalam. Teman saya itu Nasrani & kita membaca Surat Yassin di situ. Dan yang hadir dalam acara doa semalam pun dari berbagai kalangan & agama. Teman saya itu tidak hanya menyediakan rumahnya namun juga menyajikan makanan & minuman teh hangat. Seorang teman yang lain sampai tertegun karena dia melihat hiasan salib dan terdengar ayat-ayat suci Al-Qur’an mengalun. Inilah kebersamaan. Tidak perlu ucapan yang muluk-muluk untuk sebuah toleransi, justru kegiatan sederhana seperti itu lebih berarti.

 

“Mantok…
Mungkin aku gak berhak bilang kangen kamu karena saat-saat terakhir pun aku semacam gak peduli buat ngehubungi kamu. Egi, Santi, Mbak Nina atau mungkin yang lain justru punya privilage itu, mereka yang selalu care sama kamu. Tapi Nto, aku kangen ketawa & suara melengkingmu yang selalu jadi becandaan kami karena kamu tuh ganteng kalo diem, tapi jadi ancur kalo ngomong. Aku kangen kebegoanmu, bahkan Egi kemarin komentar saat kita baca doa buat kamu di rumah Mas Felix, dia bilang dengan IQ-mu mungkin kamu gak bakal paham soal gimana kami kehilanganmu. Aku kangen kamu yang selalu available buat diculik waktu di Jogja, aku inget kamu ngenalin aku warung ikan bakar Manado yang bikin aku ketagihan sampai sekarang, waktu itu aku culik paksa kamu dari kos karena gak ada temen makan siang. Aku kangen Nto… Maaf aku sempet gak care sama kamu akhir-akhir ini. Maaf aku seolah gak menghargai keberadaanmu. Maaf aku gak bisa ngomong langsung ke kamu soal penyesalan & terima kasihku. I’m so sorry for not listening & baru sekarang aku sadar saat kamu udah pergi jauh. Maaf ya Mantok… Kamu yang tenang ya di sana, kami udah ikhlas kamu pergi & tunggu kami ya. Kami pasti nyusul, entah kapan, karena siapa sih yang tahu soal itu. Yang jelas, siapin party-nya di sana, nanti kita bikin pot luck party lagi seperti di rumah Mas Anu, kamu yang masak lho ya. Till we meet again Nto. See you when I see you…”




DC vs Marvel: Whose Side Are You On?

20160328-110846.jpg

Click to see the image source.

For me, I’m team Marvel.

Tahun 2016 ini memang terjadi pertarungan besar antara DC Universe & Marvel Universe. DC punya “Dawn of Justice” & “Suicide Squad.” Marvel punya “Deadpool,” “Civil War,” “X-Men Apocalypse” & “Doctor Strange”. Saat ini yang menjadi sorotan adalah “Batman v Superman: Dawn of Justice” dan “Captain America: Civil War” karena selain release filmnya berdekatan, juga banyaknya superheroes yang ada di dalamnya serta tone yang nyaris sama, Batman vs Superman & Captain America vs Iron Man. Bahkan Civil War disebut-sebut sebagai Avenger 2.5.

Sebagai penonton yang tidak pernah membaca versi komiknya, tentu yang saya perhatikan hanya versi filmnya saja. Walaupun sejak kecil saya justru lebih akrab dengan DC, saya kenal Superman & Batman and I barely know Marvel. Tapi, it turns out I prefer Marvel than DC. Kenapa?

Marvel Punya Universe yang Kuat

Cara Marvel memperkenalkan universe-nya sungguh luar biasa. Cerita dalam Marvel saling bersinggungan satu sama lain dengan smooth. Katakanlah “X-Men” yang bersinggungan dengan “The Avengers,” Scarlet Witch dan Quicksilver adalah “X-Men” yang bergabung dengan “The Avengers.” Selain itu, Marvel selalu memunculkan cameo yang menghubungkan universe-nya. Film “Deadpool” misalnya, meskipun dengan karakter “X-Men” yang baru tapi tetap menggunakan rumah Professor X & menyebut karakternya, McAvoy & Steward. Bahkan kemunculan Spiderman dalam trailer semakin memperkuat universe-nya.

DC, di sisi lain, kurang memperkenalkan universe-nya. Dalam Man of Steel, tidak disebut-sebut Batman & Wonder Woman. Bahkan, dalam Dawn of Justice pun pengenalan Aquaman, Cyborg & The Flash pun sangat lemah. Penonton seperti saya, yang sekali lagi tidak membaca komiknya, terpaksa menebak-nebak & meng-googling cerita mereka. Saya juga merasa kesulitan menghubungkan Metropolis & Gotham, karena dalam Man of Steel tidak ada indikasi memperkenalkan Gotham.

Alur Cerita Marvel yang Lebih Nyata

Nyata di sini maksudnya berhubungan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Hal sederhana seperti pemilihan tempat misalnya. Marvel memilih kota seperti New York & Washington DC yang betul-betul ada, sehingga ketika terjadi sesuatu di kota tersebut kita dengan mudah membayangkannya. Selain itu kisah seperti Captain America yang menjadi tentara untuk melawan Hydra, Thor yang merupakan dewa dalam mitologi ataupun Ultron yang merupakan teknologi buatan Stark lebih mudah dihubungkan dengan kehidupan nyata. Meskipun Fantastic Four tidak masuk hitungan karena hanya proyek terburu-buru Fox untuk mencegah Marvel mengambil copyright-nya.

Sedangkan DC, yang mengambil kota fiktif seperti Metropolis & Gotham sulit untuk dibayangkan karena tidak dekat dengan kita. Selain itu, konflik yang dibawa Superman dalam Man of Steel misalnya, hanya permasalahan keluarga Planet Krypton, Bumi hanya sebagai Battle Field mereka. Akibatnya kita kurang mendalami permasalahan yang muncul.

Background Story Sangat Diperhatikan oleh Marvel

Sebelum memunculkan The Avengers, Marvel telah membuat film Iron Man & Captain America. Dan sebelum memunculkan Civil War, Marvel telah membuat Ant-Man & memperkenalkan karakter-karakter seperti Winter Soldier ataupun Falcon. Ini membuat penonton dengan mudah memahami emosi di dalamnya. Bahkan melihat trailer-nya pun bisa tau bagaimana kesedihan Tony karena persahabatannya dengan Steve nyaris berakhir gara-gara Bucky.

Steve: I’m sorry Tony, but he is my friend.

Tony: So was I.

(Civil War trailer)

Dialog singkat dalam trailer tersebut cukup memberikan flashback bagaimana mereka pernah menjadi tim & berperang mati-matian melawan Loki maupun Ultron, serta bagaimana karakter Tony & Steve melalui film-film sebelumnya.

Tetapi DC, sebelum membuat Dawn of Justice hanya pernah membuat Man of
Steel. Trilogi Batman yang dibuat Nolan tidak bisa masuk hitungan karena mempunyai konsep yang berbeda, konsep Trilogi Batman karya Nolan adalah realistis bukan komik seperti Dawn of Justice. Akibatnya, kita tidak mendalami karakter Batman & Wonder Woman (walaupun DC akan membuat filmnya nanti, tapi tidak cukup untuk menebus kesalahan Dawn of Justice yang secara kasar memasukkan Wonder Woman sebagai penyelamat di saat akhir).

Karakter-Karakter dalam Marvel Cukup Unik

Marvel mempunyai karakter yang beragam. Mulai dari si kaya raya & ahli teknologi Iron Man, kekuatan karena mutasi gen Captain America, mind control Scarlet Witch, sampai Deadpool yang bisa breaking the fourth wall. Sifat karakter-karakter mereka pun unik, seperti Iron Man yang sangat nasistik dan Deadpool yang pansexual.

Sebaliknya karakter DC, meskipun juga beragam, tapi Superman & Wonder Woman hampir mempunyai tipe kekuatan yang sama, umur panjang dan kuat luar biasa. Selain itu sifat-sifat karakternya yang rata-rata misterius membuat filmnya monoton dan kurang adanya element of surprise.

Marvel Berani Memunculkan Karakter Minor

Siapa sih yang kenal Ant-Man? Bahkan saat filmnya sudah release pun saya sempat sangsi sebelum akhirnya memutuskan untuk menontonnya karena I have no idea about manusia semut. Tapi gaya penceritaan Marvel, karakter penokohannya & cameo Falcon membantu saya memahami karakternya. Munculnya markas The Avengers mengembalikan ingatan segar tentang Age of Ultron.

Namun, DC sebelumnya hanya terjebak dengan reboot Superman & Batman saja. Mungkin DC harus berterima kasih kepada Marvel karena membuat keberanian memunculkan karakter minor yang akhirnya diikuti oleh DC. Walaupun Marvel juga sering terjebak me-reboot Spiderman.

Marvel Memiliki Casting yang Menjiwai Karakternya

Contoh paling mudah adalah Robert Downey Jr. sebagai the perfect Iron Man. Karakter RDJ yang memang cenderung narasistik di dunia nyata (seperti dia menulis di bio twitternya dengan kata: you know who I am) berhasil memunculkan karisma Tony Stark yang seenaknya sendiri.

Lain halnya dengan DC. Meskipun Ben Affleck adalah Batman yang bagus, tetapi Henry Cavill kurang memunculkan karisma Superman sebagai manusia setengah dewa. Cavill justru membawakan Superman dengan kegetiran Batman.

Marvel Has Good Sense of Humor

Humor unsur yang penting untuk membuat penonton rileks dari film yang intens & humor yang cerdas akan memberikan kesan. Saya masih ingat bagaimana Iron Man memanggil Hawkeye sebagai Legolas di film “Avengers” yang pertama. Juga bagaimana Thor sempat kaget karena Captain America bisa sedikit mengangkat palunya. Bahkan, dalam trailer terbaru “Civil War” Iron Man memanggil Spiderman dengan sebutan under roos, semacam jenis pakaian dalam, untuk mengisyaratkan kostum yang dipakai Spidey. Ini sangat tipikal Iron Man yang seenaknya sendiri.

Humor di DC hanya ketika kemunculan Wonder Woman yang menimbulkan pertanyaan Superman & Batman seputar “Is she with you?” “I think she’s with you.” Dan itu tidak cukup membuat tawa.

Bagitulah pendapat saya tentang Marvel & DC. Sekali lagi saya hanya penikmat film & sama sekali tidak pernah membaca komiknya. However, it’s a matter of opinion. You can agree to disagree. Menurut anda bagaimana?

Celine & Rene: L’amour Existe Encore

This post dedicated to the late Celine Dion’s husband, Rene Angelil.

20160128-112617.jpg

Click to see the image source.

Maybe I sound a bit bias because I’m a big fans of Celine Dion. But I will try to give logical reason why I think Celine Dion & Rene Angelil have the greatest love story.

Di dalam buku “My Story, My Dream“, saya membaca kisah cinta Celine & Rene. Celine mulai mencintai Rene sejak dia remaja, sewaktu Rene masih bersama istri pertamanya. Ya, selisih usia Celine & Rene adalah 26 tahun. But age is just number, right? Bahkan Celine menyimpan foto Rene di bawah bantalnya. Celine pun sempat mendapat harapan ketika Rene akhirnya bercerai dengan istrinya, tapi kemudian Rene menikah lagi dan Celine kembali menyimpan perasaannya.

Pada saat Rene bercerai dengan istri keduanya barulah Celine mulai berani mengakui perasaannya pada Rene meskipun tidak disetujui oleh sang ibu, Therese Dion. Bahkan Therese berusaha dengan segala cara untuk memisahkan Celine & Rene karena dia menganggap Rene bukan pria yang tepat untuk Celine. Tapi pada akhirnya Therese pun menyetujui hubungan mereka.

Celine & Rene sudah berpacaran sebelum akhirnya Celine berani mengakui terang-terangan tentang hubungannya dengan Rene. Celine mengakui hubungannya dengan Rene dalam dedikasi album The Colour of My Love.

Rene, for so many years I’ve kept our special dream locked away inside my heart…
but now it’s getting too powerful to keep this inside of me…
so after all these years, let me “paint the truth, show how I feel, try to make you completely real”…
Rene, you’re the colour of my love. L.V.

Celine Dion, The Colour of My Love Album

Setelah bertunangan beberapa tahun, pada tahun 1994, Celine & Rene akhirnya menikah di Notre-Dame Basilica of Montreal. Gereja yang sama digunakan untuk pemakaman Rene beberapa waktu lalu.

Banyak orang yang nyinyir dengan hubungan mereka, kata-kata kasar seperti Rene adalah seorang pedofil atau Celine hanya menginginkan harta Rene sempat menjadi topik yang hangat. Tapi Celine & Rene membuktikan semuanya salah. Bisa dilihat, sampai meninggalnya Rene beberapa waktu lalu, pernikahan Celine & Rene tidak pernah terkena gossip buruk, tidak seperti banyak artis lain yang terkenal karena kawin cerai dan perselingkuhan. Meski minimnya gossip miring ini membuat Celine tidak menjadi hot topic di media, kehidupan Celine sangat membosankan bagi media. Bagaimana tidak, Celine is typical a girl next door. Celine tidak pernah melakukan hal yang aneh-aneh seperti party gila-gilaan, mabuk-mabukkan ataupun berselingkuh. Bagi media itu membosankan, padahal seharusnya Celine bisa menjadi panutan diva sejati yang profesional.

Kembali lagi ke kisah Celine & Rene, bisa dibilang kisah mereka adalah masterpiece kisah romantis. Setelah menikah pun banyak hal harus dilalui seperti perjuangan mendapatkan anak yang akhirnya lahir lah Rene-Charles dan si kembar Nelson & Eddy, kanker yang diderita Rene yang menyebabkan Celine sempat vakum di dunia musik sampai akhirnya Celine kembali lagi untuk perform karena permintaan Rene.

“Sometimes [you] don’t feel what you need to feel, [you] just do it. And I did and it was very hard.”
Celine Dion, Good Morning America

Akhirnya kematian tidak dapat dihindarkan. Rene meninggal dunia karena kanker pada usia 73 tahun, meninggalkan Celine yang berusia 47 tahun, Rene-Charles yang berusia 14 tahun dan si kembar Nelson & Eddy yang berusia 5 tahun. Permintaan terakhir Rene pada Celine untuk dapat meninggal di pelukannya terpenuhi, karena pada hari-hari terakhir Rene, Celine selalu berada di sisinya bahkan menyuapinya. Dan Rene pun, yang sangat mencintai Celine dan tidak mau merepotkannya, merencakan pemakamannya sebelum dia meninggal.

Jadi, Rene sudah merencanakan pemakamannya sendiri semenjak dirinya divonis kanker tenggorokan baru-baru ini. Rene menyusun sendiri lagu yang digunakan dalam pemakamannya sampai pada prosesinya. Dia menuliskan dan memberikannya kepada Celine.

Pemakaman Rene pun berlangsung selama dua hari adalah hari dimana saudara, teman, bahkan fans diijinkan untuk melakukan penghormatan terakhir pada Rene & memberikan ucapan belasungkawa pada Celine dan keluarganya. Celine berdiri di samping jenazah Rene selama berjam-jam sampai jam 11 malam demi menerima orang-orang yang datang mendoakan Rene. Meski menahan tangis namun Celine terlihat tabah menerima pelukan dan ucapan dari para pelayat. She is the true Diva. Celine menunjukkan kesedihannya dan memperbolehkan para pelayat berbagi kesedihan, bahkan Celine terlihat menghibur beberapa pelayat yang menangis. Diva manalagi yang mau melakukan ini?

“J’ai compris que ma carrière était d’une certaine manière son chef d’œuvre, sa chan­son, sa sympho­nie à lui. L’idée qu’elle puisse rester inache­vée l’aurait peiné terri­ble­ment. J’ai compris que, si jamais il dispa­rais­sait, je devrais conti­nuer sans lui, pour lui.

I understand that my career was in a way his masterpiece, his song, his symphony. The idea of leaving it unfinished would have hurt him terribly. I realized that if he ever left us, I would have to continue without him, for him.”
Celine Dion, Rene’s wake program

Hari kedua, prosesi pemakaman dimulai pukul 03.00 petang. Celine & keluarga memasuki Basilica pukul 03.20 bersamaan dengan diputarnya lagu Trois Heures Vingt, yang diambil dari album Perancis Celine berjudul Melanie. Diputarnya lagu ini pun memang sesuai rencana karena Trois Heures Vingt berarti twenty past three, bertepatan dengan Celine & keluarganya masuk ke dalam Basilica.

Setelah lagu usai, Celine meletakkan bunga lily ungu di atas bantal tempat cincin pernikahannya dengan Rene. Setelah itu Celine memberikan simbol L.V. dengan tangan kanannya. Simbol ini merupakan secret handshake antara Celine & Rene. Prosesi pun berlanjut. Dan Rene-Charles melakukan eulogy untuk Rene.

“You are a tough act to follow but with our help everything is going to be fine. Dad, I promise you here that we’re all going to live up to your standards. Je t’aime Papa.”
Rene-Charles Eulogy

Prosesi pemakaman ditutup dengan Celine bersama dengan peti Rene berjalan keluar Basilica dengan diiringi lagu Pour Que Tu M’aimes Encore. Dan di luar Basilica, Celine melakukan penghormatan terakhir dengan mencium Rene’s casket.

Is it too much if I say this is the most beautiful funeral I’ve ever seen? I guess not, because Celine & Rene is the greatest love story I’ve ever know.

Adieu Rene Angelil. Merci beaucoup…

20160128-174031.jpg
Click to see the image source.

Travel Anxiety is Such Pain in The Ass!

Have you ever get travel anxiety? It’s s**k! Especially if you have travel anxiety right before you travel.

Sedikit curhat nih. Saya suka travelling dan lumayan sering jalan-jalan, katakanlah dalam satu tahun saya pergi travelling ke tempat yang jauh minimal sebanyak dua kali. Menyenangkan sih jalan-jalan, tapi jeleknya saya punya masalah dengan travel anxiety atau sering disebut dengan kecemasan wisata, meskipun saya baru sadar tentang travel anxiety ini baru saja.

Ceritanya begini, saya dan teman saya baru saja jalan-jalan ke Hong Kong. Nah, sebelum berangkat kemarin, saya merasakan ketakutan luar biasa, padahal sebelumnya tidak pernah setakut ini. Saya akui saya memang sering nervous sebelum berpergian karena saya takut terbang. Ya, I have a love/hate relationship with travelling. I love travelling but I hate flying. Kombinasi yang buruk kan? Apalagi mengingat destinasi wisata saya yang pasti membutuhkan pesawat. Sebelum melakukan travelling saya pasti merasa ketakutan naik pesawat, tapi tidak pernah seburuk kemarin yang sampai berhari-hari sebelum keberangkatan. Sampai-sampai saya merasa was-was itu sebuah pertanda akan ada kejadian buruk ketika saya jalan-jalan ke Hong Kong.

Akhirnya, saya memutuskan untuk googling dan paham lah saya kalau saya kena travel anxiety. Dari hasil googling saya, ternyata ada tiga penyebab utama travel anxiety. Pertama, ketakutan terbang. Kedua, ketakutan berada di tempat asing. Ketiga, ketakutan meninggalkan rumah karena takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan selama ditinggal pergi. Langsung saya tahu bahwa penyebab travel anxiety saya adalah yang pertama karena untuk yang kedua dan ketiga saya tidak merasa takut. Dan gara-gara ketakutan terbang ini, saya hampir saja membatalkan perjalanan ke Hong Kong.

Sambil menimbang-nimbang keputusan untuk berangkat atau tidak, saya googling lagi tentang pencegahan travel anxiety karena takut terbang. Ada beberapa solusi yang saya temukan. Pertama, jangan terlalu dipikirkan karena apa pun yang terjadi di atas pesawat itu di luar kuasa kita. Solusi ini malah semakin membikin saya stress karena pikiran-pikiran yang negatif. Saya pun mencoba melihat solusi yang lainnya. Kedua, akui bahwa kita menderita travel anxiety dan bicarakan dengan orang yang mengerti, karena travel anxiety justru akan semakin buruk kalau kita lawan dengan denial. Oke, cara ini saya lakukan. Saya menulis curhatan saya soal takut terbang dan mengirimnya kepada salah satu teman saya melalui whatsapp. Teman saya membalas dengan nada yang menenangkan dan menyemangati saya untuk tetap berangkat ke Hong Kong. Hasilnya, stress dan sakit kepala saya berkurang. Kemudian saya pun melihat ke solusi yang terakhir. Ketiga, jangan menghindari travelling gara-gara travel anxiety karena akan memperburuk keadaan dan membuat kita ketakutan untuk melakukan travelling selanjutnya. Challenge accepted! Jadi, berangkat lah saya ke Hong Kong.

Apakah sudah selesai begitu saja travel anxiety-nya? Tunggu dulu. Belum sama sekali. Pada hari-H perjalanan tangan saya luar biasa dingin dan jantung saya berdebar-debar cemas. Saya pun memutuskan memakai obat tidur pada saat terbang. Tidak terlalu pengaruh sebenarnya, karena travel anxiety ternyata bisa mengalahkan efek obat tidur. Akhirnya saya memutuskan mendengarkan musik saja. And it works! Saya merasa tenang dan mulai menikmati perjalanan. Sempat terjadi turbulance yang cukup mengerikan sebenarnya, saya bersyukur tidak terjadi apa-apa dan bisa kembali ke tanah air dengan selamat. Thank God!

Sekarang, travel anxiety saya tidak benar-benar hilang, tapi it gets better. Dan saya tidak kapok travelling, bahkan udah menyusun rencana travelling selanjutnya. Yay!

20150828-043656.jpg
Here we go, Disneyland! This foto is taken by Mbak Nina, my travelling partner.